\
Beberapa waktu yang lalu jonru dibuat murka oleh salah satu tweet yang menampilkan gambar editan arti kata jon.ru dan men.jonru
dalam kamus KBBI.
Berhubung saya kesulitan mengupload gambar di kompasiana, berikut cuplikan kalimatnya:
Jon.ru n perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (spt menodai nama baik dan merugikan kehormatan orang): adalah perbuatan yang tidak terpuji
Men.jon.ru n menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan nama orang)
Ditweet oleh @Rifanpecros
Saya juga baru tau dari celetukan kompasianer Gunawan di facebook yang berisi screenshoot gambar tweet. Dan untuk pertama kalinya penasaran dengan fanspage Jonru yang sering dishare oleh teman-teman kader partai sebelah.
Lucunya jonru bertausiyah agar tidak menuduh orang fitnah jika tidak ada bukti, dan ‘candaan’ Rifan ini kemudian ditanggapi serius dan katanya akan dilaporkan ke kepolisian.
Jika melihat postingan jonru, memang ada banyak opini yang dibuat searah -menyerang Jokowi- tanpa menjelaskan secara detail. Ibarat puzzle, ada banyak bagian yang dihilangkan hanya agar faktanya sesuai dengan yang diinginkan. Tentu saja ada banyak tulisan dan saya rasa semua yang memiliki nalar dan pengetahuan sudah bisa menyimpulkan sendiri tanpa perku saya bahas secara rinci.
Tulisan-tulisan tersebut memang bisa diperdebatkan. Dan kalau itu terjadi, baik kita maupun jonru akan mencari celah pembenaran. Pastinya bukan waktu yang sebentar untuk bisa sepakat tentang satu hal, apalagi jonru adalah fanatik kontra jokowi. Namun yang menarik dari fanspage jonru adalah postingan tentang gambar RI 1 Megawati, RI 2 Surya Paloh, RI 3 JK dan RI 4 Jokowi.
Gambar tersebut saya anggap hanya lucu-lucuan saja. Namun sebenarnya 4 orang terkait bisa menuntut jonru dengan pasal berlapis. Rakyat Indonesia juga bisa menyimpulkan itu sebuah fitnah keji, karena kenyataanya saat ini RI 1 Jokowi, RI 2 JK. Sementara Megawati dan Surya Paloh hanyalah ketua umum partai politik yang mengusung keduanya, setara dengan Muhaimin Iskandar dan Wiranto.
Persoalanya sekarang adalah, saat jonru memposting seperti itu apakah beliau tidak merasa bersalah sedikitpun?
Lantas kenapa saat ada tweet yang memparodikan namanya saja beliau langsung marah-marah? Mau melaporkan ke polisi dan sebagainya. Apa tidak bisa berkaca pada diri sendiri dulu? Yang sudah menebar banyak propaganda selama kampanye hingga kini.
Hal yang membuat saya tertawa adalah postingan fanspage jonru sebelum pemilu, katakanlah 2013 ke belakang. Postinganya berupa promo buku, seminar kepenulisan, cerita inspiratif dan sebagainya yang jumlah like serta komentarnya sering kali di bawah 100. Khusus komentar malah sering di bawah 50, bahkan beberapa di bawah 10 dan 5.
Semuanya berubah saat jonru menjadi relawan prabowo. Kader salah satu partai yang sebelumnya malu-malu, kini semakin dekat dengan jonru. Ditambah lagi pendukung prabowo yang banyak terbawa arus -meski sebagian sudah bisa move on seperti prabowo.
Your ads will be inserted here by
Easy Plugin for AdSense.
Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.
Easy Plugin for AdSense.
Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.
Setau saya jonru ini bukan kader partai. Beliau adalah penulis dan pendiri dapurbuku.com, namun justru lucu karena lebih terkenal karena ocehan propagandanya.
Setau saya penulis itu seperti Asma Nadia atau Helvy Tiana Rossa. Mbak Helvy meski pada pilpres lalu beliau mendukung prabowo, namun tulisanya tidak seburuk jonru. Saya rasa itu karena mbak Helvy sadar dirinya penulis, jadi harus memberi contoh yang baik. Hampir semua followers Mbak Helvy bisa memaklumi perbedaan tersebut, karena bahasanya sangat nyaman dibaca.
Kemudian bandingkan saja dengan kepala suku Kompasiana, Pepih Nugraha. Meskipun Kang Pepih ini pendukung Jokowi dan sering terlibat debat panjang dengan teman-temanya, namun tidak sampai membuat orang benci, seperti yang terjadi pada jonru. Ini karena postingan Kang Pepih sangat bisa dipertanggung jawabkan, tidak hanya menebar propaganda bombastis untuk menarik perhatian.
Beruntung baik Kang Pepih, Mbak Helvy tidak segila jonru. Berkat kematangan dan akurasi berpikirnya mereka bisa tetap berwibawa sebagai kepala suku Kompasiana, penulis handal dan seterusnya. Begitu juga dengan Mbak Helvy dan Asma Nadia. Semua mereka saat ini kembali ke alamnya masing-masing, tidak lagi bersikap seperti saat kampanye sebelum pilpres.
Hal ini kemudian kebalikan dari jonru. Beliau sampai saat ini masih seperti sedang kampanye, padahal pemilu masih 5 tahun lagi.
Dibanding buku-bukunya, saya justu mengenal jonru ini politisi. Dan saya bisa maklum jika politisi tulisanya seperti itu, karena semua tentang kepentingan. Bukan lagi kebenaran.
Namun lucunya beliau bukan kader atau anggota partai. Maka wajar saja jika banyak yang beranggapan bahwa jonru ini memanfaatkan kader fanatik partai sebelah dan mereka yang terlanjur benci jokowi sebagai ‘pasarnya’.Untuk jualan buku dan membuat seminar kepenulisan. Apakah ini sah? Dalam bisnis dan perang semuanya sah saja. Meski sebagian orang beranggapan jonru sedang tebar pesona ke beberapa partai KMP agar nantinya bisa masuk dan menjadi politisi. Entalah, hanya Tuhan yang tau.
Jujur saja bagi saya apapun yang dikatakan jonru awalnya saya tidak tertarik. Terserah teman-teman facebook mau menshare tulisan-tulisanya, saya memilih untik tidak mengomentari. Namun setelah melihat kejadian @Rifanpecros yang berhasil membuat jonru murka, saya jadi terinspirasi untuk menuliskan ini.
Bahwa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Jika sering menebar fitnah, pada saatnya nanti juga akan difitnah. Kalau jonru berkilah tidak pernah memfitnah, ya mungkin itu hanya perasaanya saja.
Toh gambar RI1-RI4 tadi sudah menjadi contoh yang apple to apple terkait celetukan @Rifanpecros. Jika sering menjelek-jelekkan, ya nantinya akan ada orang yang balik menjelekkan. Karena hidup sesederhana itu.
Kalau jonru beranggapan semakin banyak yang menerornya, membuat dia yakin berada di jalan yang benar, saya rasa beliau perlu belajar lagi tentang agama dan sosial budaya. Karena tidak ada dalil yang mematenkan seperti itu. Apalagi agama adalah alasan untuk saling menghormati dan menebar kedamaian, bukan kebencian.
Ya ini sebagai pembelajaran saja bagi kita semua. Semoga bermanfaat
sumber: http://islamtoleran.zz.vc
Tidak ada komentar:
Posting Komentar