PUSTAKAWAN modern
bukan orang yang ngendon di ruang baca dan menanti pengunjung datang.
Bukan. Pustakawan masa kini bukan sekadar tukang jaga ruang
perpustakaan. Mereka harus berani terjun ke lapangan, berperan konkret,
untuk mencerdaskan masyarakat agar melek huruf dan haus buku.

JATUH
BERANTAI: Komunitas Arek-Arek Kreatif, relawan TBM Mawar, tim Barpus
Surabaya, dan siswa SDN Rungkut Menanggal 1 membuat domino buku. Foto:
Phaksy Sukowati/Jawa Pos
HARI masih
pagi. Pukul 08.00. Matahari pun masih berjuang naik melampaui atap-atap
rumah dan pepohonan. Tapi, ruang Balai RW 03 Kelurahan Rungkut Menanggal
sudah riuh oleh geliat puluhan siswa SDN Rungkut Menanggal 1.
Mereka terlihat asyik sekali menikmati
kegiatan Komunitas Arek-Arek Kreatif, Taman Baca Masyarakat (TBM) Mawar,
serta pustakawan Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya.
Yang mereka lakukan pada Sabtu (17/5) itu
memang dalam rangka peringatan Hari Buku Nasional. Kegiatannya pun
cukup asyik. Yakni, membuat domino buku. Puluhan anak berseragam pramuka
itu pun larut di tengah-tengah ruangan balai untuk menyusun 2 ribu buku
menjadi pola rangkaian kartu domino yang siap disenggol agar bisa jatuh
berantai.
Tugas itu, tampaknya, mudah. Tapi, kerap
bikin geregetan. Betapa tidak, berkali-kali mereka harus mendirikan
kembali susunan buku karena tak sengaja jatuh. Ada pula buku yang memang
sengaja disenggol anak jail.
Bukan cuma anak, sejatinya. Angin yang
’’jail’’ juga ikut-ikutan merobohkan buku yang sudah tertata. ’’Biasa.
Kalau main domino buku memang harus sabar,’’ kata Dicki Agus Nugroho,
koordinator utama Komunitas Arek-Arek Kreatif.
Menurut Dicki, acara hari itu memang
dikemas secara fun, kreatif, dan heboh. Sebab, jarang sekali Hari Buku
Nasional diperingati secara istimewa. Jangankan itu, bisa jadi banyak
orang yang tak tahu tanggal peringatan Hari Buku Nasional. Bisa jadi
pula, ada orang yang bahkan tidak tahu bahwa Hari Buku Nasional itu ada.
Karena itu, Komunitas Arek-Arek Kreatif
berjuang agar Hari Buku Nasional kian dikenal orang. Yang dilakukan
komunitas beranggota puluhan pustakawan dan penggiat literasi tersebut
bukan hanya itu.
Rencananya, mereka juga menyusun menara
buku, workshop membikin mading (majalah dinding), serta membuat mading
tiga dimensi bertema buku. Itu semua dilakukan dengan menggandeng
siswa-siswi dan arek-arek Surabaya yang berminat.
Komunitas Arek-Arek Kreatif memang getol
mengadakan aksi-aksi atau demonstrasi unik dan menarik bagi masyarakat.
Komunitas yang dibentuk pada Oktober 2013 itu juga tercatat dalam Museum
Rekor Dunia Indonesia (Muri) tatlaka mengadakan tarian buku.
Tari itu diikuti 1.022 anak sekolah
dasar. Tari yang diadakan bulan lalu tersebut mengampanyekan peningkatan
minat baca anak-anak sekolah. Itu disimbolkan dalam rangkaian gerak
tari nan seru dan menyenangkan bagi anak-anak.
Tari itu lantas diadopsi sebagai tari
nasional oleh Badan Arsip Nasional. Artinya, tari tersebut bebas
disebarkan dalam rangka kampanye mengajak anak se-Nusantara untuk gemar
membaca.
’’Sekarang kan lagi tren goyang dan tari
dengan gerak unik. Di TV banyak. Akhirnya, kami putuskan bikin tari,’’
kata Dicki. Untuk mematangkan gerak tari itu, mereka menggandeng
koreografer dan instruktur Surabaya yang berpengalaman.
Meski baru seumur jagung, komunitas
tersebut tak mau surut ide. Tiap bulan mereka membikin aksi-aksi unik
dan kreatif. ’’Selama ini, alhamdulillah, tidak pernah ada bulan yang
kosong kegiatan. Pasti ada peristiwa menarik yang bisa dijadikan tema
kegiatan,’’ kata Dicki.
Alumnus jurusan Ilmu Perpustakaan
Universitas Diponegoro tersebut memaparkan, tim mereka memang selalu
hunting tanggal-tanggal menarik atau penting hingga dua bulan ke depan.
Rangkaian tanggal itu lantas dipaparkan dalam rapat, satu per satu,
untuk dibahas. Jangan bayangkan rapat itu hanya duduk-duduk dalam satu
ruangan.
Mereka memanfaatkan gadget untuk tukar
ide dan sumbang saran. Misalnya, menandai foto (tagging) di Facebook.
Pesan berantai lewat BlackBerry Messenger (BBM) hingga jaringan
komunikasi berbasis pesan singkat lainnya. Itu kudu dilakukan lantaran
anggota komunitas tersebut memang tersebar di beberapa wilayah dan
universitas di Surabaya.
Dalam rapat virtual itu, mereka menyaring
ide-ide paling jos. Baik dari sisi kreativitas maupun kebaruan.
’’Biasanya kami googling ide-ide itu. Yang paling unik dan belum pernah
diadakan yang akan dipilih,’’ ujar Dicki.
Untuk lebih mendekatkan diri terhadap
masyarakat, Komunitas Arek-Arek Kreatif juga peka terhadap isu-isu
urban. Misalnya, soal lingkungan atau menggandeng tokoh-tokoh inspiratif
Surabaya.
Salah satunya adalah soal kematian
beberapa satwa Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang mereka jadikan topik
edukasi. ”Anak-anak dikumpulkan untuk dapat wawasan pentingnya kehidupan
satwa liar bagi manusia. Mereka juga kami ajari jenis-jenis satwa
langka,’’ kata Diki. Kegiatan itu juga diwarnai pemasangan puzzle besar
bertema hewan-hewan punah.
Saat Nelson Mandela, tokoh antiapartheid
dari Afrika Selatan mangkat, misalnya, komunitas tersebut juga membikin
acara penyampaian pesan-pesan dari anak-anak kepada mendiang Mandela.
’’Persiapan kami hanya tiga hari. Tapi, respons masyarakat dan media
cukup baik,’’ jelas Dicki. Tak cuma media lokal, kantor berita asing
seperti Reuters dan AFP pun ikut meliput.
Segala suka boleh mereka alami. Tapi, itu
tidak berarti mereka tak pernah mengalami hal pahit. Misalnya, mereka
digusur satpol PP saat beraksi di Taman Bungkul. Komunitas itu diusir
karena menggelar terpal di sekitar taman untuk memajang koleksi buku.
Harapannya, buku-buku tersebut dibaca masyarakat yang sedang santai di
momen car free day. ’’Mungkin, dikira kami membuka lapak,’’ kata Dicki.
Padahal, saat itu mereka mengangkat tema
inspirasi Andi Alfian Mallarangeng. Mantan Menpora yang terkena kasus
korupsi tersebut memang tetap suka membaca meski sedang menginap di
hotel gratisan (prodeo).
Yang dikritik memang bukan kasus
hukumnya. Tapi, kecintaan seseorang terhadap buku dalam situasi apa pun.
Ketika itu, komunitas tersebut juga melakukan aksi teatrikal dengan
memakai topeng Andi, menenteng novel Inferno, lantas menarik koper yang
penuh buku.
Bagi komunitas itu, memberi semangat dan
mengedukasi masyarakat secara sukarela memang menimbulkan kepuasan
batin. Sebab, masyarakat kerap tersentuh dan trenyuh. Pada perayaan Hari
Ibu, 22 Desember, misalnya, Komunitas Arek-Arek Kreatif mengadakan
lomba adu kecepatan gendong istri yang diikuti puluhan pasangan.
Beberapa di antara peserta menyatakan
terharu karena sebelumnya tidak pernah digendong mesra suaminya. ”Kami
merasa ikut senang dan lega. Saat itu ibu-ibu mengatakan senangnya hati
mereka dengan mata berkaca-kaca,” ungkap Dicki.
Muhammad Afri, mahasiswa Stikom, salah
seorang anggota komunitas, begitu menyukai aktivitas dengan anak-anak.
Itu terlihat saat dia dengan sabar menghadapi anak yang kadang
meruntuhkan susunan domino buku. Dengan begitu, domino buku baru bisa
benar-benar berdiri sempurna –untuk kemudian dirobohkan secara resmi–
setelah satu jam berjuang.
Siti Masruhatur, mahasiswi UIN Sunan
Ampel, juga punya kesan mendalam tentang berbagai kegiatan Komunitas
Arek-Arek Kreatif. Misalnya, ketika mereka menggagas aksi pengumpulan
koin untuk korban letusan Gunung Kelud.
Penggalangan dana itu cukup unik. Yakni,
mereka menyusun koin menjadi tulisan PRAY4KELUD. Ternyata aksi tersebut
sangat sukses. ”Saya senang lihat anak masih kecil saat itu ikut
menyumbangkan recehannya demi membantu sesama,” cerita perempuan
berjilbab itu.
Kepala Yayasan Pengembangan Perpustakaan
Indonesia (YPPI) Trini Haryanti yang menyokong Komunitas Arek-Arek
Kreatif tak kalah bangga. Dia ingin agar komunitas kreatif lain terus
tumbuh secara tulus untuk ikut mencerdaskan masyarakat. Salah satunya
adalah menyebarkan virus budaya literasi.
Sumber: jpnn.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar