Manajemen Humas Lembaga Pendidikan
Islam;
Upaya Meningkatkan Partisipasi dan Peran
Masyarakat
dalam Proses dan Peningkatan Mutu
Pembelajaran
(Studi
Kasus di MA 1 Annuqayah Puteri)
Masyarakat
dan Lembaga pendidikan sejatinya merupakan bagian integral masyarakat yang tidak
bisa dipisahkan.[1] Keduanya
saling membutuhkan dan saling melengkapi, bahu membahu dalam mengatasi dan
menemukan solusi atas setiap persoalan kehidupan ini. Lembaga pendidikan yang
berperan sebagai tempat anak didik menimba ilmu pengetahuan, tak akan mampu
berbuat banyak tanpa mendapatkan dukungan dan kepercayaan masyarakat yang
merupakan salah satu modal utama suksesinya proses pembelajaran.
Dukungan
dan kepercayaan masyarakat pada sebuah lembaga pendidikan tidaklah lahir
tiba-tiba. Kepercayaan tersebut merupakan sebuah hasil dari proses yang amat
panjang dengan ditunjang oleh berbagai faktor, yang salah satunya faktor
dominan adalah ketokohan dari figur pengelola lembaga pendidikan tersebut.
Itulah yang selama ini “dirasakan” oleh lembaga pendidikan yang berada dalam
naungan pondok pesantren. Adanya figur sentral (pengasuh/kiai) dengan segala
sikap arif dan kebijaksanaannya mampu melahirkan kepercayaan dan kepasrahan
penuh dari masyarakat pada proses pendidikan yang akan dijalani oleh
putera-puteri mereka, tanpa adanya perasaan curiga maupun waswas sedikitpun.
Namun,
dengan berkembangnya persoalan dan tuntunan zaman yang kian kompleks,
kepercayaan masyarakat pun mulai berorientasi kritis. Mereka mulai
bertanya-tanya, tentang proses pendidikan yang akan dialami putera-puterinya
saat menghabiskan waktunya dalam sebuah lembaga pendidikan. Kontrol mereka yang
awalnya “pasrah total” pada kebijakan lembaga pendidikan kini mulai bergeser
pada “kepercayaan kritis” yang ikut pula mengontrol proses pembelajaran
putera-puterinya. Pergeseran ini sejatinya disebabkan atas adanya kebutuhan dan
keinginan yang berbeda-beda ditengah-tengah masyarakat. Oleh karenanya, Lembaga
pendidikan dalam hal ini dituntut untuk membangun dan membina komunikasi aktif
dengan segenap elemen masyarakat agar kepercayaan dan dukungan mereka tetap
terkendali.
Inilah
yang menjadi salah satu faktor pentingnya manajemen hubungan masyarakat dalam
tata kelola sebuah lembaga pendidikan. Manajemen humas yang oleh sebagian
kalangan dianggap sebagai seni, atau ilmu yang bertujuan membina dan
meningkatkan kepercayaan publik terhadap suatu individu atau lembaga tertentu.
Sementara dalam lembaga pendidikan, ia merupakan serangkaian pengelolaan
kegiatan yang berkaitan dengan upaya peningkatan kepercayaan atau bertujuan
untuk menciptakan dan mengembangkan persepsi citra positif lembaga pendidikan
di masyarakat.[2]
Dalam
studi lapangan tentang manajemen humas ini, kami mengambil lokasi pada lembaga
pendidikan yang berada dalam naungan Pondok Pesantren yaitu pada Madrasah
Aliyah (MA) 1 Annuqayah Puteri Guluk-Guluk Sumenep - Madura. Hal ini disebabkan
karena masih adanya tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap
kualitas pendidikan yang dikelola oleh pondok pesantren. Atas adanya
kepercayaan tersebut, kami ingin melihat tindakan atau langkah apa saja yang
selama ini dilakukan oleh pihak lembaga untuk membina dan mengembangkan
kepercayaan masayarat, dan bagaimana cara pihak lembaga pendidikan membina
komunikasi aktif dengan para wali siswa guna meningkatkan peran mereka untuk
ikut serta menyukseskan proses pembelajaran yang telah ditetapkan di lembaga
pendidikan.
“sejatinya,
jauh sebelum ilmu tentang hubungan masyarakat (humas) itu mengemuka, lembaga
pendidikan yang berada dalam naungan pesantren telah melakukan aktivitas itu.
Ini bisa dibuktikan dengan adanya Haflatul Imtihan (Haflah) yang rutin
dilaksanakan tiap tahun oleh setiap madrasah. Dalam haflah tersebut, hubungan
silaturrahiem antara wali siswa dengan lembaga, terjalin dengan baik” ungkap
Bapak Afif Riadi, M.Pd.I selaku Kepala Madrasah Aliyah Puteri 1 Annuqayah saat
mengawali diskusi tengan Manajemen Humas.
Namun
demikian, pihaknya mengakui bahwa pada zaman ini komunikasi antara lembaga
pendidikan dan masyarakat tidak bisa sekedar dicukupkan dengan cara
silaturrahiem melalui haflatul imtihan tersebut. Karena itu, dalam beberapa
tahun terakhir ini pihaknya bersama Waka Humas yang saat ini dijabat oleh K.
Muzayyin telah berupaya melakukan beberapa hal, agar masyarakat semakin
berperan aktif dalam “mengontrol” proses pembelajaran anak didiknya di
madrasah. Beberapa program tersebut antar alain: Pertama, Mengadakan
Temu Wali Siswa setiap akhir semester. Dalam kegiatan ini, madrasah memberikan
laporan berkaitan yang berkaitan dengan hasil proses pembelajaran yang telah
ditempuh oleh anak didik dalam satu semester. Prestasi-prestasi yang telah
dicapai siswa diumumkan dihadap wali siswa, sekaligus menyosialisasikan
beberapa program unggulan yang telah berjalan maupun yang telah direncakan
untuk dilaksanakan di semester berikutnya. Dalam forum tersebut pula terbangun
komunikasi aktif dengan wali siswa mengenai hal-hal yang perlu dikembangkan di
lembaga pendidikan. Dalam forum tersebut, pihak Madrasah juga memaksimalkan
peran wali kelas untuk bersilaturrahiem secara khusus dengan wali siswa. “setelah
pertemuan dengan semua wali siswa yang bersifat umut, kami memberikan waktu
khusus bagi wali kelas untuk bertemu wali siswa di kelas masing-masing,
pertemuan tersebut diisi diskusi dan penjelasan mengenai kondisi anak didik
secara spesifik dan hal-hal yang perlu dilakukan oleh orang tua siswa dalam
mengontrol pembelajaran anak, dalam forum tersebut juga disosialisasikan
mengenai aturan pembelajaran di madrasah” ungkat pak Afif selaku Kepala MA
1 Annuqayah Puteri.
Kedua, Membuat Laporan Tentang
Perkembangan Madrasah. Laporan ini bersifat tertulis yang berisi ulasan singkat
tentang perkembangan madrasah, baik yang berkenaan dengan sarana prasarana,
pendanaan dan juga beberapa kegiatan yang menjadi program prioritas di lembaga
tersebut. Laporan sinkat tersebut dibagi-bagikan kepada segenap wali
siswa yang hadir pada acara temu wali yang rutin dilaksanakan setiap akhir
semester.
Ketiga, Mengadakan Istighasah bersama.
Program ini dilaksanakan setiap menjelang pelaksanaan Ujian Nasional.
Sebagaimana yang diungkapkan K. Muzayyin, Istighasah bersama sejatinya tidak
hanya bertujuan mendoakan agar semua siswa lulus dalam ujian nasioanl, namun
lebih dari pada itu adanya istighasah dan doa bersama tersebut juga bertujuan
agar Tuhan senantiasa memberikan ilmu yang bermanfaat bagi semua anak didik,
mengingat mereka telah hampir sampai pada batas akhir pembelajaran ditingkatkan
Aliyah. Hal itu juga dimaksudkan agar anak didik senantiasa diberikan kekuatan
untuk tetap mampu mempertahankan tradisi-tradisi kepesantrian saat mereka
belajar di perguruan tinggi. “Istigahasah tersebut tidak sekedar bertujuan
agar siswa kami lulus di UN. Namun juga bermaksud agar Allah berkenan
memberikan ilmu yang telah mereka pelajar disini bermanfaat dan mereka juga
diberikan kemampuan untuk tetap mengamalkan semua amalan dan tradisi pesantren
yang selama ini telah mereka jalani” Ungkapnya penuh antusias. Ia pun
melanjutkan, bahwa pihaknya seringkali kawatir dengan kebebasan pergaulan luar
di perguruan tinggi, oleh sebab itu pihak madrasah merasa berkewajiban
“membentengi” siswa dan juga memberikan penjelasan bagi segenap orang tua siswa
tentang pentingnya pengawasan prilaku bagi anak didik saat menempuh pendidikan
tinggi di luar daerah.
Keempat, Menyusun Profil Sekolah. Profil
tersebut berisi penjelasan singkat mengenai perjalanan madrasah dari waktu ke
waktu. Dalam buku tipis itu juga dijelaskan mengenai tingkat kemajuan madrasah
mulai sejak berdiri sampai masa kini, lengkap dengan profil figur yang menjadi
kepala sekolah di Madarasah. Beberapa prestasi siswa juga diuraikan secara
rinci, dan juga berisi tentang kegiatan-kegiatan ektra kurkuler yang menjadi
aktivitas tambahan anak didik selama menjadi siswa di MA 1 Puteri. Visi, Misi,
Tujuan dan Kegiatan juga diuraikan secara jelas. Buku tersebut diberikan bagi
setiap wali siswa angkatan pertama.
Kelima, Pertemuan Wali Siswa Baru
(Angkatan Pertama). Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun ajaran baru
yang diperuntukkan bagi wali siswa baru sejak tahun 2012 kemarin. Dalam
kegiatan tersebut, dijelaskan mengenai proses pembelajaran yang diterapkan di
MA 1 Annuqayah Puteri. Pada kegiatan tersebut, pihak lembaga membangun komitmen
bersama dengan orang tuan siswa untuk saling bahu membahu dan bekersjasa
mengontrol aktivitas pembelajaran siswa guna menyukseskan tujuan pembelajaran
yang telah diterapkan oleh pihak madrasah.
Selain
itu, komunikasi aktif dengan berbagai kalangan masyarakat terutama para alumni
dilakukan dengan menggunakan media sosial jenis Facebook. Meski akun tersebut
terkesan “tidak resmi” namun terbukti mampu menjalin komunikasi aktif dengan
berbagai kalangan. Melalui jejaring tersebut, baik secara personal maupun
kelembagaan beberapa guru atau pimpinan madrasah melakukan komunikasi intens
dengan berbagai kalangan. Komunikasi tersebut sangat penting dilakukan untuk
“memantau” keberadaan dan kondisi para alumninya. “Kami memang memiliki grup
facebook Alumni MA 1 Pi Annuqayah” dari forum tersebut kita tetap membangun
komunikasi aktif dengan berbagai alumni, ya meskipun itu hanya sekedar bertegur
sapa. Namun hal itu kan merupakan “media” silaturrahmi, sehingga hubungan murid
dan guru, maupun teman ke teman tidak terputus begitu saja” ungkap Pak Afif
Selaku kepala MA 1 Pi.
Pak
Afif juga mengungkapkan bahwa sebenarnya MA 1 Annuqayah Puteri juga telah
memilik Blog Resmi yang berisi ulasan atau berita mengenai aktivitas
pembelajaran di madrasah. Namun pihaknya mengakui bahwa sampai saat ini blog
tersebut belum terkelola dengan baik. Awalnya blog tersebut aktif mengupload
berita secara berkala, namun seiring dengan adanya kebijakan pesantren yang
membtasi siswa dalam mengakses internit, akhirnya program tersebut pun mandeg.
Kita masih berencana untuk membuat website resmi, sekarang masih pada tahap
pemesanan. Mungkin tahun depan sudah bisa launching” pungkasnya.
Dari
beberapa kegiatan tersebut, Madrasah Aliyah (MA) 1 Puteri Annuqayah berupaya
membangun komunikasi aktif dengan segenap elemen masyarakat, terutama dengan
wali siswa guna meningkatkan kepedulian dan kepercayaan mereka dengan proses
pembelajaran yang berlangsung di lembaga pendidikan tersebut.
sumber: Abd Warits
[1] Lihat Mulyono, Teknik
Manajemen Humas dalam Pembangan Lembaga Pendidikan Islam, dalam Jurnal
Ulumuna; Jurnal Studi Keislaman, diterbirkan oleh Intitut Islam Negeri Mataram,
Volume XV-Nomor 1-Juni 2011, hal. 173
[2] Telaah pada Ira Nur Harini, Manajemen
Hubungan Masyarakat dalam Upaya Peningkatan Pencitraan Sekolah; Studi Kasus di
SMP Al-Hikmah Surabaya, dalam Jurnal Inspirasi Manajemen Pendidikan, Vol.
4. No. 4, April 2014, hal. 9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar